5 Alasan Saya Tidak Mau Membuat Artikel Dengan ChatGPT

Membuat artikel dengan ChatGPT

Membuat artikel dengan ChatGPT memang jadi alternatif untuk para blogger, content writer, dan lain-lain. Tapi buat saya yang sudah pernah mencoba rasanya ogah untuk melakukannya lagi.

Jaman sekarang memang membuat artikel bisa menjadi lebih mudah dengan adanya teknologi AI (artificial intellegence). Banyak orang yang mulai memanfaatkan teknologi ini untuk membuat artikel seara otomatis. Walaupun sebetulnya pembuatan artikel blog otomatis itu sudah ada sejak lama, tetapi sebelumnya tidak menggunakan teknologi AI melainkan script tertentu yang fungsinya untuk mengambil artikel dari sumber lain, lalu dilakukan spin word, atau rewrite.

Terkadang salah satu kendala seseorang dalam membuat post blog secara konsisten adalah ketika pikiran sedang buntu, tidak ada ide harus menulis apa. Lalu dengan munculnya teknologi AI membuat seorang blogger bisa membuat lebih banyak artikel dalam waktu yang cukup singkat. Salah satu  AI untuk membuat artikel yang banyak dipakai adalah ChatGPT.

Apa itu ChatGPT

ChatGPT adalah sebuah teknologi yang bisa melayani atau membalas obrolan (chat). GPT sendiri adalah singkatan dalam bahasa Inggris yaitu Generative Pre-training Transformed. Bisa dikatakan bahwa dengan menggunakan ChatGPT kita bisa mendapatkan jawaban seolah-olah sedang mengobrol dengan seseorang. Jawaban dalam obrolan itu dibuat (generated) berdasarkan database yang telah sistem ini kumpulkan.

Dengan fitur yang disebutkan di atas, banyak orang membuat artikel dengan ChatGPT karena dianggap mudah. Kita bisa bertanya misalnya “buatkan artikel dalam bahasa Indonesia tentang kesadaran lingkungan”. Lalu, sistem pun akan memberikan jawaban dan nantinya jawaban inilah yang akan dijadikan artikel untuk di-post di blog. Dengan demikian banyak orang menganggap membuat artikel itu gampang karena ada ChatGPT. Mereka tidak perlu membaca referensi dari berbagai sumber, lalu menemukan intisarinya, lalu menuliskannya dalam bahasa sendiri.

Hasil Artikel Dari ChatGPT

Percakapan dalam ChatGPT disebut juga prompt. Chat ini juga sekaligus berfungsi sebagai intruksi atau perintah. Di atas saya memberikan contoh prompt “buatkan artikel dalam bahasa indonesia tentang kesadaran lingkungan”. Maka setelah kita kirimkan perintah tersebut sistem akan langsung memberikan rangkaian kalimat atau paragraf hingga terbentuklah sebuah artikel utuh.

Dalam setting-an aslinya ChatGPT akan memberikan jawaban dalam bahasa yang formal dan kaku. Biasanya kalimat yang diberikan kurang nyaman untuk dibaca karena beberapa hal seperti; kalimat berulang, gaya bahasa tidak familiar sehingga sulit difahami. Hal itu memang wajar mengingat AI mengikuti sistem yang sudah diprogram sedemikian rupa. Tetapi pada akhirnya hasil artikel yang diberikan tidak akan cukup membantu dalam memberikan informasi.

Baca Juga  Menghindari Plagiat Dalam Artikel SEO

Alasan Saya Tidak Membuat Artikel dengan ChatGPT (Lagi)

Setidaknya saya mempunyai lima alasan untuk tidak menggunakan ChatGPT (lagi) untuk membuat artikel. Jujur saja, saya pernah membuat artikel menggunakan ChatGPT. Jadi, bukan tidak menggunakannya sama sekali. Hanya saja, setelah saya mencoba menggunakannya ternyata lebih baik membuat artikel dengan “cara lama”. Saya sebut cara lama karena di beberapa konten ada yang mengatakan “udah nggak jaman bikin artikel harus mikir dulu”.

1. Harus Paham Prompt

Prompt adalah kunci dari hasil terbaik yang diharapkan. Memang cara menentukan prompt juga bermacam-macam, dan yang paling banyak digunakan adalah dengan menentukan persona sang ChatGPT. Kita ingin ChatGPT berperan sebagai apa. Dengan dua prompt berikut ini ChatGPT akan memberikan hasil yang berbeda :

  • “Buatkan artikel tentang kesadarang lingkungan”
  • “Saya ingin kamu menjadi seorang ahli lingkungan, saat ini banyak sekali kasus pencemaran lingkungan, berikan penjelasan tentang pentingnya menjaga lingkungan dalam 10 paragraf”.

Jika kita mengganti prompt lagi maka hasilnya pun akan berbeda. Untuk mendapatkan hasil yang sesuai harapan atau tujuan artikel maka prompt-nya pun harus disusun seakurat mungkin. Berdasarkan kondisi tersebut, saya memilih untuk membaca beberapa sumber lalu saya tulis menjadi artikel baru.

2. Harus di-edit sendiri

Coba Anda buka ChatGPT lalu berikan perintah “buatkan artikel blog tentang cara menjadi freelancer“. Hasilnya mungkin cukup baik sebagai artikel yang memberikan informasi. Tetapi terdapat banyak sisi yang akhirnya harus diedit sendiri supaya bisa lebih dipahami. Jika demikian, bukankah hampir sama step-nya dengan kita mencari referensi terlebih dahulu? Kan, sama-sama harus membaca keseluruhan.

Hampir tidak ada seorang pun dari konten kreator edukasi yang menyarankan untuk menyalin 100% hasil dari ChatGPT. Siapapun yang paham tentang ChatGPT pasti akan menyarankan untuk melakukan peng-edit-an dari jawabannya. Terkadang jawaban dari ChatGPT tidak sesuai konteks dikarenakan prompt yang tidak akurat, sehingga pembahasannya tidak jelas.

3. Ragu dengan hasil

Sebetulnya baik dengan menggunakan ChatGPT maupun tulis manual tidak bisa menjamin apakah hasilnya sepenuhnya benar atau ada kesalahan informasi di bagian tertentu. ChatGPT sendiri memberikan keterangan bahwa dia bisa saja memberikan informasi yang salah sehingga perlu dilakukan crosscheck.

Kesalahan ChatGPT
Kesalahan ChatGPT

Terlebih, ada kemungkinan terjadinya proses recycle atau perputaran siklus. Maksud saya, ChatGPT ini memberikan jawaban berdasarkan informasi yang dia kumpulkan. Lalu, ada orang yang menggunakan jawaban ChatGPT sebagai artikel. Lalu, saat ada orang bertanya lagi ke ChatGPT, artikel tersebut dimasukan ke dalam databasenya. Jadi, ChatGPT akan menambah database berdasarkan jawabannya sendiri.

Baca Juga  Kesalahan Freelancer Yang Membuat Gagal
Menulis Artikel dengan Chatgpt
Siklus Informasi ChatGPT

 

Selain dengan kekhawatiran di atas, data yang diberikan oleh ChatGPT pun terbatas. Hingga saat artikel ini dibuat, data yang bisa diberikan oleh ChatGPT di Versi 3.5 adalah sampai Januari 2022. Artinya, jika ada data terbaru mungkin tidak akan muncul dalam jawaban ChatGPT.

4. Tidak menambah wawasan

Jika kita menggunakan ChatGPT untuk membuat artikel maka informasi yang akan kita dapatkan hanya berasal dari satu sumber, yaitu ChatGPT saja. Walaupun memang ChatGPT pun mengumpulkan dari berbagai sumber, tetapi kita tidak bisa mengetahui penjelasan dari sumber-sumber yang diambil. Kita hanya disuguhi intisarinya saja dan tidak tahu sudut pandang dari setiap sumber.

5. Tidak melatih otak untuk berpikir

Masih berkaitan dengan alasan sebelumnya. Dari ChatGPT kita disuguhi bahan jadi, tidak ada aktifitas meramu atau meracik informasi dari berbagai sumber untuk kemudian diolah dan menjadi sesuatu yang baru. Ibarat masak, kita menerima ayam yang siap masak yang sudah diberi bumbu kuning. Kita tidak berkeliling ke berbagai pedagang di pasar,melihat apakah ayamnya masih segar, apakah kunyitnya muda atau tua, kita tidak menakar garam dan penyedap sendiri, dan aktifitas lain yang biasa dilakukan jika ingin memasak sesuatu.

Begitu juga dalam menulis artikel. Kita perlu membuat kerangka, mencari referensi, menilai apakah referensi ini pantas untuk diambil datanya, apakah masih relevan atau sudah outdated, dan penilaian lainnya sehingga membuat kita mantap untuk menyajikan informasi tersebut dalam sebuah artikel yang baru.

Memang, seperti yang sudah disampaikan juga sebelumnya bahwa setelah mendapat jawaban kita harus melakukan penyuntingan, jadi pasti harus berpikir apa saja yang perlu disunting dan bagaimana penyuntingannya. Tetapi, itu seperti menambah garam atau gula di masakan yang sudah siap olah. Percuma menambahkan penyedap jika ternyata ayam atau ikan yang dipilihnya sudah tidak segar bahkan mendekati busuk.

Bagi saya, mencari kata atau frase lain dalam penyuntingan artikel akan terasa lebih bervariatif ketika kita memiliki banyak referensi. Penyuntingan dilakukan jika sumber informasi yang dipilih sudah cukup bagus.

Sebagai penutup, dalam postingan ini saya hanya sekedar menyampaikan alasan saya pribadi mengapa tidak membuat artikel menggunakan ChatGPT lagi, padahal sebelumnya pernah membuat beberapa artikel menggunakan ChatGPT. Post ini tidak dalam posisi menilai blogger lain yang menggunakan AI sebagai sarana untuk membuat artikel.

Sumber :

  1. Apa itu prompt
  2. Pengertian ChatGPT

 

21 thoughts on “5 Alasan Saya Tidak Mau Membuat Artikel Dengan ChatGPT

  1. Aku juga msh ragu bgt dg chat gpt,takutnya ada yg nyamain gitu. Ya namanya mesin kan?! Sepintar2nya pasti ada celah juga utk error

  2. Saya belim pernah membuat postingan dengan bantuan chatgpt. Pernah melihat teman saat menunjukkam cara penggunaan dan hasilnya. Saya merasa kok bukan saya banget bahasa dan gaya penulisannya. Dari awalnya ingin memakai jadi urung. Biarlah postingan hasil tulisan sendiri, apapun hasilnya.

  3. Saya gak kepikiran sama sekali untuk nulis menggunakan AI bang. Karena feelnya pasti beda antara robot dan manusia. Terima kasih sudah sharing

  4. Saya gak kepikiran sama sekali nulis menggunakan AI bang. Karena feelnya pasti beda antara robot dan manusia. Terima kasih sudah sharing. B

  5. Setuju dengan poin-poin di atas. Walau kadang saya juga pakai ChatGPT, namun lebih kepada alat. Paling sering digunakan sebagai bahan brainstorming dengan memberikan ide dan meminta ChatGPT untuk generate kerangka yang sekiranga menarik dengan beberapa versi. Hasilnya tinggal saya pelajari dan bangun teks utuh dari kerangka yang udah ke generate sebelumnya.

    Menurut saya, semuanya balik ke penulis dan penggunanya. Bisa jadi senjata, bisa jadi petaka juga.

    Thanks for sharing, Kak

  6. Kalau cuma untuk cari ide ChatGPT masih okelah..tapi kalau copas , big NO. Karena pernah hasilnya tuh ngasal. Karena ragu, crosscek dulu eh benar informasi yang diberikan salah. Jadi lebih pilih nulis sendiri saja sayaa

  7. Teknologi AI memudahkan manusia. Contohnya chat Gpt. Tapi untuk kreatifitas tetap dibutuhkan ide baru agar tidak jalan di tempat.

  8. Setuju kak. Menurutku chatgpt kurang cocok digunakan untuk menulis artikel yang membutuhkan kedalaman riset. Kalau saya, biasanya butuh chatgpt buat bikin outline tulisan saja atau mikirin ide atau topik tulisan. Itupun terkadang hasilnya masih kurang sreg.

  9. Hehe kalau blogger bikin artikelnya menggantungkan diri pada AI kekgitu, berarti bukan blogger dong sebutannya.

  10. Chat gpt lebih sering di gunakan buat nyari idenya, artikel tinggal riset sendiri sambil ngetik. Intinya lebih memudahkan sih sebagai alat.

  11. Wah. Saya kalau pakai chat GPT cuma jadi waktu nganggur aja. Buat hiburan lumayan untuk ngetes juga dan cari inspirasi.

  12. Wuih sepertinya saya yg ketinggalan jaman batu tahu kalau blogger bisa mendelegasikan menulisnya lewat perangkat lain. Tapi kalau kurang memuaskan emang mending bikin tulisan manual sendiri langsung sih ya…
    Toh pakai chatgpt sama aja kudu diedit manual lagi ternyata

  13. Setuju tulisan chatgpt perlu diedit sendiri sesuai gaya bahasa masing-masing agar terasa seperti tulisan manusia.

  14. Keren banget pendiriannya min…. Lanjutken!
    Tapi menurut mimin aman gak sih artikel hasil chatGPT untuk jangka panjang ?

  15. benar juga sih kak, cuman menurut saya tetap chatgpt cukup membantu dalam proses draft artikel, selebihnya tetap kita cari tahu informasi berdasarkan sumber yg jelas, agar tidak memberikan informasi yg salah hanya berdasarkan chatgpt,

  16. Kebetulan saya seorang penulis artikel sejak 2019. Bulan lalu coba chat GPT beberapa prompt namun hasilnya tetap saja kaku. Lebih baik nulis sendiri karena biasanya manusia menulis ga hanya dengan otak, tapi dengan hati hehe

  17. Pernah coba sekali, tapi hasil dari kata dan kalimatnya jadi tidak baku dan sulit untuk dimengerti. Akhirnya nulis pake ide sendiri yang sesuai dengan apa yang kita mau, jadi bisa lebih tepat sasaran.

  18. Jujur saya sendiri sebenarnya kurang suka dengan Chat GPT dan baru menggunakannya ketika sudah kepepet. Itupun hanya untuk mencari daftar ide topik konten saja. Hasil dari Chat GPT memang kaku, dan terkesan berlawanan untuk kaidah SEO friendly. Harus banyak merubah lagi.

    1. Yaps, sama saya pun juga begitu, Butuh input prompt berkali-kali agar hasil Chat GPT bisa membaik dan tidak terlalu kaku. AI juga perlu belajar dulu agar lebih mengerti maksud dari kita.

  19. Pingback: Good Bye Helmy Kediri, Tempat Belajar SEO Blog | Salju Dingin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *