Pola Pikir Penyebab Kegagalan Freelancer

Penyebab Kegagalan Freelancer
Dengan berkembangnya informasi khususnya melalui sosial media, saat ini banyak sekali orang tertarik menjadi freelancer (pekerja lepas) setelah mendengar atau menerima cerita sukses di sosial media, khususnya Tiktok.
Beberapa informasi bisa jadi misleading karena salah satu unsur penting di konten sosial media adalah hook atau headline. Hook atau headline ini yang akan membuat penonton melihat keseluruhan konten.
Nah, saya akan memberikan beberapa poin yang penyebab kegagalan freelancer sehingga tidak bisa mendapatkan penghasilan 2 digit.
Banyak konten kreator yang menceritakan kesehariannya sebagai freelancer. Kerja dari rumah, cafe, sawah, pantai, dll. Waktunya bisa bebas, tidak terikat jam kerja di kantor, dll. Seolah-olah freelancer itu santai.
Kenyataannya menjadi freelancer itu juga adalah pekerjaan. Kamu tetap harus berkerja secara profesional. Kamu harus punya manajemen waktu yang baik karena akan berhadapan dengan deadline. Kamu baru bisa santai kalu pekerjaanmu sudah selesai dan uangmu sudah terkumpul cukup untuk menolak pekerjaan lain.
Jika tidak seperti itu, jangan kaget kalau kamu akan kesulitan untuk makan.

Berpikir menjadi freelancer itu mudah

Bukan bermaksud menakut-nakuti atau menanamkan pikiran negatif dan pesimis. Tapi kebanyakan gagalnya orang yang ingin menjadi freelancer adalah pikiran bahwa menjadi freelancer itu mudah. Cukup ongkang kaki, nanti order datang sendiri.
Faktanya, order tidak akan datang kalau tidak ada orang yang membutuhkanmu. Untuk membuat orang-orang tahu tentangmu harus ada publikasi. Kamu harus membangun personal branding yang membuat kamu terpercaya. Kamu harus punya portofolio untuk bukti hasil pekerjaanmu. Kamu harus mampu memasarkan dirimu dengan berbagai cara, termasuk muncul di sosial media.
Orang dalam? Jangan harap ada orang dalam yang mau membayarmu kalau mereka tidak yakin pekerjaanmu bagus. Orang lain juga tidak mau rugi, mengeluarkan uang secara cuma-cuma.
Untuk pemula bisa dengan memberikan layanan gratis, mendaftar di situs semacam fiver lalu menjual layanan dengan harga yang murah, setelah terkumpul portofolio dan rating baru harganya bisa naik bertahap.

Berpikir menjadi freelancer itu bebas

Freelancer dengan karyawan hanya beda tipis. Perbedaannya hanya di waktu, tempat, dan bossnya. Waktunya tidak tetap seperti karyawan kantor, tetapi sama-sama ada deadline.
Kerja melewati deadline? Di kantor dimarahi boss, mungkin potong gaji, di freelance siap-siap dapet rating buruk, mungkin ngga dapet pekerjaan lagi.
Karyawan harus masuk kantor, freelance bisa kerja di mana saja asalkan pekerjaan selesai.
Karyawan harus ngikutin kemauan bos, freelancer harus ngikutin kemauan klien. Tetap saja tidak bebas.
Selebihnya, yang membuat orang mau menjadi freelancer adalah penghasilan yang sebanding dengan pekerjaan. Semakin banyak bekerja, semakin besar penghasilan. Sedangkan di kantor sebanyak apapun pekerjaannya penghasilannya tetap, kecuali ketika ada kenaikan gaji.
Jadi, kalau mau berhasil jadi freelancer kamu tetap harus mempunyai pikiran untuk selalu bekerja professional, sesuai deadline, memberikan pelayanan terbaik. Tidak bisa 100% bebas.

2 thoughts on “Pola Pikir Penyebab Kegagalan Freelancer

  1. betul, saya pernah menjadi “korban” sebab salah menyimpulkan sendiri.. hanya melihat enaknya saja, sangat-sangat subjektif sekali.. ?

    artikel ini cukup membantu membuat pemahaman terkait freelancer yang lebih objektif, semoga ada lanjutannya.. ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *